Aku dan Gunung

Jujur,sebenarnya saya bukan anak pecinta alam karena sampai hari ini saya belum pernah mengikuti pecinta alam manapun. Namun, jika ditanya apa yang menyebabkan saya salut dengan mereka saya menjawab satu hal : Gunung.
Mengapa? Sebab hanya di gunung persahabatan, kerja sama, dan cinta benar2 terbukti.

Saat pertama saya mendaki gunung adalah bulan April 2010. Selesai ujian tengah semester, dengan niat melepas penat saya beserta teman2 mendaki Merapi di pos Selo.
Entah apa yang saya pikirkan waktu itu, apakah saya masih junior atau memang dasarnya saya lagi bodoh saya hanya berbekal uang seribu lima ratus beserta tas 50 liter. Untunglah mereka mengerti keadaan saya dan akhirnya saya bersama mereka dapat bertahan hingga puncak tertinggi di Gunung Merapi, Puncak Garuda.Dan, mungkin karena kebodohan uang seribu itu, saat saya turun dari Puncak garuda menuju Pasar Bubrah tangan saya tiba2 terkilir hingga tangan saya di gips sebulan (saya menceritakan kalau saya jatuh dari motor di Pogung).

Namun, tangan terkilir bukanlah penghambat bagiku untuk menikmati keindahan pegunungan. Ini terbukti dari pendakian keduaku tanggal 1-2 Oktober 2010 di Gunung Merbabu via Selo, Boyolali.  Bersama teman2 dengan jumlah yang lumayan banyak (30 orang) kami berangkat tanggal 1 Oktober sore hari dan sampai di basecamp Selo malam hari sekitar jam 9. Setelah istirahat, kami berangkat dengan dibagi 3 rombongan dan saya termasuk rombongan kedua. ketiga rombongan tersebut sebenarnya efektif di awal perjalanan saja tidak di akhir perjalanan mendekati kemah karena ada anggota rombongan yang tidak kuat ditambah percampuran anggota rombongan.

Rencana puncak kami yang seharusnya bisa 30 orang ternyata tidak jadi diakibatkan beberapa anggota tidak sanggup untuk menuju puncak. tapi itu tidak menggoyahkan niatku untuk menuju puncak bersama teman-teman lain. Akhirnya kami sampai ke puncak pertama dari dua puncak Merbabu : Puncak Triangulasi, dimana ritual mendaki gunung yang biasanya dilakukan, mencopot baju alias telanjang dada dan berfoto.  Setelah itu kami berjalan menuju puncak Kenteng Songo namun ada salah seorang teman yang tida ikut ke sana dengan alasan : sudah.

Setelah selesai berurusan dengan dua puncak itu 😀 , kami semua turun gunung dan  bersiap pulang ke Jogja, sayang akhirnya motorku menyerah pada saat pertama mau pulang karena rantai copot. Ungung segera bisa diperbaiki.

Itulah susah dan senangnya mendaki gunung untukku : )

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: